7 Kesalahan Persepsi Tentang Sertifikat Halal MUI - Noung Jelly

7 Kesalahan Persepsi Tentang Sertifikat Halal MUI

11 bulan yang lalu      Halalan Thoyyiban

Ketika sebuah produk sudah memiliki sertifikat Halal, setiap muslim tentu akan merasa lega dalam mengkonsumsi produk tersebut. Tapi terkadang, ada kesalahan-kesalahan persepsi yang mengiringi sebuah kehalalan produk.

Berikut akan dipaparkan 7 kesalahan persepsi tentang sertifikat Halal yang banyak beredar di masyarakat.

1. Masa berlaku sertifikat halal

Banyak yang menganggap jika sebuah brand sudah memiliki sertifikat Halal, maka selamanya akan Halal. Padahal yang benar adalah sertifikat halal MUI hanya berlaku selama 2 tahun. Kemudian sesudahnya harus diperpanjang jika tidak ada perubahan komposisi dan harus di audit ulang jika ada perubahan bahan baku atau prosesnya.

Bahkan di negara lain kebanyakan melakukan ketentuan lebih ketat dengan berlakunya sertifikat Halal yang hanya selama 1 tahun. Sebuah brand yang awalnya memiliki sertifikat Halal bisa saja kemudian kehilangan atau tidak memiliki sertifikat Halal lagi karena di audit berikutnya memuat bahan yang tidak lolos pemeriksaan Halal.

Itulah pentingnya kita selalu teliti mengecek logo Halal pada kemasan, karena brand yang sudah tidak memiliki sertifikat Halal, tentu tidak bisa memasang logo halalnya lagi pada kemasannya.

2. Sertifikat  H alal nasional dan provinsi

Seringkali banyak brand yang mempunyai banyak cabang di daerah namun belum berinisiatif untuk membuat sertifikat Halal secara nasional yang berlaku di semua outletatau biasa disebut SJH (sistem jaminan halal). Biasanya ada beberapa outlet yang berinisiatif untuk menghalalkan outletnya sendiri yang mana kehalalannya hanya berlaku di provinsi tertentu saja.

Namun, kesalahan persepsi yang terjadi adalah ketika sertifikat lokal provinsi tersebut diakui secara nasional. Hal ini menjadi salah kaprah, mengingat kesamaan bahan bukan berarti lantas semua outlet menjadi sama halalnya. Karena untuk memiliki sertifikat Halal nasional, kehalalan bukan hanya dicek dari bahan melainkan proses dan pengemasan/penyajian.

Jadi apabila di outlet lain dalam proses dan penyajian terkontaminasi sesuatu yang tidak Halal, maka sertifikat Halal di outlet provinsi lain tidak bisa menjamin. Karena itulah, suatu brand dengan banyak outlet di sarankan memiliki sertifikat Halal nasional agar menjamin Halal keseluruhan outletnya. Dengan demikian customer akan lebih tenang menyantap di outlet cabang mana saja.

3. Bahan  H alal tidak menjamin  H alal produk

Suatu produk, bisa saja mengklaim vegan atau herbal dengan semua bahan alami yang Halal. Atau mengklaim tidak mengandung babi dan alkohol. Hanya terkadang bisa saja dalam prosesnya terbentuk alkohol sehingga menjadi tidak Halal di konsumsi.

Contohnya adalah bumbu masak angciu, angciu terbuat dari sari tapai beras, tapai adalah makanan Halal namun ketika sudah menjadi angciu produknya akan mengandung alkohol dan menjadi khamr. Karena itu angciu tidak halal dikonsumsi.

Atau ketika dalam prosesnya, produk tersebut berlokasi yang sama dengan produk lain yang mengandung bahan tidak Halal, maka terjadi kontaminasi yang menyebabkan produk menjadi tidak Halal. Karena itulah banyak produk herbal/vegan pun saat ini membuat sertifikat halal pada produknya untuk menjamin kenyamanan konsumen dalam mengkonsumsinya. Jadi sertifikat Halal memang memudahkan masyarakat untuk mencari produk yang Halal dari hulu hingga ke hilir.

4. Varian  H alal tidak menjamin keseluruhan  H alal.

Umumnya hal ini terjadi pada brand dengan banyak varian produk. Seperti misalnya kosmetik, adanya sertifikasi Halal pada beberapa variannya seperti pada lipstick atau skincare tidak menjamin semua produk yang berada dibawah brand yang sama akan menjadi Halal, karena terkadang dalam satu brand ada produk yang didaftarkan sertifikasi Halal dan ada pula yang tidak.

Begitu pula makanan yang ada di restoran, bisa saja yang Halal hanya saus tomatnya atau kopinya saja dan tidak serta merta restorannya memiliki sertifikat Halal. Melainkan hanya produknya yang terlampir saja yang sudah pasti halal.

Pernah juga terjadi pada brand bakery, ternyata pada bakery tersebut hanya varian rotinya yang Halal, sedangkan pada cake-nya masih menggunakan rhum pada pembuatannya, sehingga untuk produk cake dipastikan tidak termasuk produk Halal meskipun untuk varian roti sudah memiliki sertifikasi Halal.

5. Kosmetik  H alal, semua sah untuk berwudhu?

Dalam kosmetik Halal, yang di halalkan adalah produknya, bukan berarti menghilangkan sifat produknya. Hal ini berlaku untuk segala produk waterproof. Seperti misalnya kutek dan maskara. Secara produk, bisa saja produk ini sudah memiliki sertifikat halal. Tapi tetap saja dikarenakan sifatnya adalah waterproof, air tidak bisa menembus kulit ketika berwudhu. Walaupun tidak masalah jika digunakan beribadah.

Solusinya mudah, misalnya dengan menggunakan kosmetik yang bisa di tembus air wudhu, menggunakan make up yang luntur ketika terkena air sehingga mudah untuk berwudhu. Atau bisa pula dengan menghapus make up terlebih dahulu sebelum berwudhu.

6. Zero alkohol =  H alal?

Sekarang marak produk mengklaim zero alkohol. Hal ini dikatakan untuk memfasilitasi mereka yang ingin merasakan minuman yang sedianya beralkohol agar bisa dinikmati tanpa mabuk. Sesuai dengan peraturan MUI,  produk yang namanya menyerupai yang haram maka tidak bisa diberikan sertifikat Halal.

Ketika akan memeriksa kehalalan suatu makanan dan kosmetik, jika tidak tertera logo Halal. Biasanya orang akan melakukan cek pada bahan baku yang tertera di kemasan. Biasanya yang di curigai hanya yang jelas tertera kandungan babi seperti procine, swine, pork atau boar. Atau tertera kandungan alkohol atau rhum atau produk beralkohol lainnya.

Padahal kehati-hatian, bisa juga kita cermati melalui bahan lainnya. Seperti pewarna, emulsifier, pemutih, perasa, semua bahan rentan di selusupi bahan tidak Halal. Karena itu pengetahuan mengenai bahan baku Halal itu sangat penting terutama bagi para wanita yang kerap kali berbelanja untuk rumah tangga.

7. Semua produk yang mengandung kode E adalah haram?

Kode E bukan pertanda suatu produk mengandung bahan haram. Karena kode E adalah kode bahan aditif. Dimana bahan aditif untuk produk bisa terbuat dari nabati atau hewani. Untuk hewani sendiri tidak selalu babi, melainkan bisa juga terbuat dari sapi, kambing, atau hewan halal lainnya.

Hal ini pernah terjadi dan menjadi viral ketika suatu produk es krim ternama di Indonesia menulis salah satu bahan mengandung kode E lalu diunggah seorang netizen bahwa produk tersebut mengandung kode E dari babi sedangkan di kemasan tertera jelas logo halal MUI. Hal ini justru akhirnya menimbulkan fitnah, karena banyak yang mengira logo Halal MUI yang dimiliki merk es krim tersebut tidak valid. Padahal di samping kode E sudah tertera tulisan “plant origin” yang berarti terbuat dari tumbuhan dan produk tersebut Halal dikonsumi.

Karena itu, logo Halal sangat memudahkan kita memilah, apakah produk yang akan kita konsumsi benar-benar Halal.

Nah, demikian 7 kesalahan persepsi yang seringkali dilakukan masyarakat yang mengakibatkan kita menjadi agak sulit mendeteksi dan memilah produk Halal. Karena itu sikap hati-hati dan teliti haruslah disertai pengetahuan yang cukup mengenai bahan, aturan dan persepsi-persepsi yang salah sebagaimana di atas tadi.

Semoga artikel ini bisa membantu.

Fan page             :  HALAL CORNER

FB Group             :  http://bit.ly/1SL4wQB

Website               :  www.halalcorner.id

Twitter                 :  @halalcorner

Instagram            :  @halalcorner

Redaksi : RRM / SZB

 

Sumber : http://www.halalcorner.id/7-kesalahan-persepsi-tentang-sertifikat-halal-mui/



Artikel Terkait



Komentar Artikel "7 Kesalahan Persepsi Tentang Sertifikat Halal MUI"